BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi di
Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit
tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf
pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan
penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka
kecacatan 30-50%.
Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia,
dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa
Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis.
Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang
dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria
meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4
tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan
Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi
pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk
seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi
mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.
B. TUJUAN
Mahasiswa mampu menjelaskan Meningitis meliputi:
1. Anatomi dan
Fisiologi Selaput Otak
2. Definisi Meningitis
3. Klasifikasi Meningitis
4. Etiologi Meningitis
5. Patofiosiologi Meningitis
6. Manifestasi klinis Meningitis
7. Komplikasi Meningitis
8. Pemeriksaan Penunjang Meningitis
9. Penatalaksanaan Medis Meningitis
10. Penatalaksanaan Keperawatan Meningitis
C. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN berisi Latar Belakang, Tujuan, dan
Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI berisi Anatomi Fisiologi Selaput Otak,
Definisi Meningitis, Etiologi, Patofiosiologi, Manifestasi klinis,
Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Penatalaksanaan
Keperawatan, dan ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS
BAB IV PENUTUP berisi Kesimpulan,
saran dan daftar pustaka
BAB
II
TEORI PEMBAHASAN
A. Anatomi dan Fisiologi Selaput Otak
![]() |
| Add caption |
1.
Lapisan Luar (Durameter)
Durameter
merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak, sumsum tulang
belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter terbagi lagi atas
durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak (periosteum) dan
durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak untuk membentuk
falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.
2.
Lapisan Tengah (Arakhnoid)
Disebut
juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan
piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak yang meliputi
seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan arakhnoid disebut
ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah bening.
Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan vena yang menghubungkan
sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan serebrospinal.
3.
Lapisan Dalam (Piameter)
Lapisan
piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang
mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Lapisan ini melekat erat
dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arakhnoid
dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel
radang. Disini mengalir cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang
belakang
B. DEFINISI
MENINGITIS
Meningitis
adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column
yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan
Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
Meningitis
adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh
berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1,
2006 )
Meningitis
merupakan infeksi parah pada selaput otak dan lebih sering ditemukan pada
anak-anak. Infeksi ini biasanya merupakan komplikasi dari penyakit lain,
seperti campak, gondong, batuk rejan atau infeksi telinga.
Meningitis
adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis
berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut
dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup
udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).
C.
KLASIFIKASI
MENINGITIS
Adapun klasifikasi dari meningitis menurut Brunner &
Suddath. 2002 yaitu: asepsis, sepsis dan tuberkulosa.
- Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitits virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah diruang sub arachnoid.
- Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.
- Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basillus tuberkel.
Sedangkan menurut Ronny Yoes meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu Meningitis Serosa/ Tuberkulosa dan Meningitis Purulenta.
- Meningitis Serosa/Tuberkulosa adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Myobakterium Tuberculosa. Penyebab lain seperti Virus, Toxoplasma gondhi, Ricketsia.
- Meningitis Purulenta adalah radang bernanah arachnoid dan piamater yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebanya antara lain: diplococus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Streptococcus haemolytiicus, Staphylococcus aureus,haemophilus influenzae, esherchia coli, klebsiella pneumoniae, pseudomonas aeruginosa
- Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitits virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah diruang sub arachnoid.
- Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.
- Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basillus tuberkel.
Sedangkan menurut Ronny Yoes meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu Meningitis Serosa/ Tuberkulosa dan Meningitis Purulenta.
- Meningitis Serosa/Tuberkulosa adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Myobakterium Tuberculosa. Penyebab lain seperti Virus, Toxoplasma gondhi, Ricketsia.
- Meningitis Purulenta adalah radang bernanah arachnoid dan piamater yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebanya antara lain: diplococus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Streptococcus haemolytiicus, Staphylococcus aureus,haemophilus influenzae, esherchia coli, klebsiella pneumoniae, pseudomonas aeruginosa
D.
ETIOLOGI
1. Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
- Haemophillus
influenzae
- Nesseria
meningitides (meningococcal)
- Diplococcus
pneumoniae (pneumococcal)
- Streptococcus,
grup A
- Staphylococcus
aureus
- Escherichia
coli
- Klebsiella
- Proteus
- Pseudomonas
2. Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Beberapa virus secara umum yang menyebabkan meningitis adalah:
- Coxsacqy
- Virus herpes
- Arbo virus
- Campak dan varicela
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Beberapa virus secara umum yang menyebabkan meningitis adalah:
- Coxsacqy
- Virus herpes
- Arbo virus
- Campak dan varicela
3. Jamur
Kriptokokal meningitis adalah serius dan fatal. Bentuk penyakit pada pasien HIV/AIDS dan hitungan CD< 200.Candida dan aspergilus adalah contoh lain jamur meningitis.
Kriptokokal meningitis adalah serius dan fatal. Bentuk penyakit pada pasien HIV/AIDS dan hitungan CD< 200.Candida dan aspergilus adalah contoh lain jamur meningitis.
4. Protozoa
FAKTOR RESIKO :
1. Faktor maternal: rupture membran
fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir kehamilan
2. Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
3. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
4. Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan melalui sekresi pernapasan)
2. Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
3. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
4. Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan melalui sekresi pernapasan)
E.
PATOFISIOLOGI
· Efek
peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinal yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi
hidrosefalus dan peningkatan tekanan intra
kranial. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah Hiperemi pada
meningen. Edema dan esudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan intra kranial.
· Organisasi masuk melalui sel darah merah blood
brain barrier. Masuknya dapat melalui
trauma penetrasi, prosedur pembedahan, atau pecahnya abses serebral atau
kelainan sistem saraf pusat. Otorrhea atau rhinorrhea akibat fraktur dasar
tenggkorak dapat menimbulkan meningitis,
dimana terjadi hubungan antara CSF dan dunia luar.
· Masuknya mikroorganisme ke susunan saraf
pusat melalui ruang sub-arachnoid dan menimbulkan respon peradangan pada via,
arachnoid, CFS dan ventrikel.
· Dari reaksi radang muncul eksudat dan
perkembangan infeksi pada ventrikel, edema dan skar jaringan sekeliling
ventrikel menyebabkan obstruksi pada CSF dan menimbulkan hidrosefalus.
· Meningitis bakteri: netrofil, monosit,
limfosit, dan yang lainnya merupakan sel respon
radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit yang dibentuk di
ruang subarachnoid. Penumpukan pada CSF akan bertambah dan mengganggu aliran
CSF di sekitar otak dan medulla spinalis. Terjadi vasodilatasi yang cepat dari
pembuluh darah dapat menimbulkan ruptur atau trombosis dinding pembuluh darah
dan jaringan otak dapat menjadi infarct.
· Meningitis virus sebagai akibat dari
penyakit virus seperti meales, mump, herpes simplek dan herpes zoster.
Pembentukan eksudat pada umumnya tidak terjadi dan tidak ada mikroorganisme
pada kultur CSF.
F.
MANIFESTASI KLINIS
1. Anak dan Remaja
a)
Demam
b)
Mengigil
c)
Sakit kepala
d)
Muntah
e)
Perubahan pada sensorium
f)
Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)
g)
Peka rangsang
h)
Agitasi
i)
Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien
(adanya disfungsi pada saraf III, IV,
dan VI)),Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma.
2.
Bayi dan Anak Kecil
Gambaran
klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun.
a)
Demam
b)
Muntah
c)
Peka rangsang yang nyata
d)
Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada tinggi)
e)
Fontanel menonjol.
3. Neonatus:
a)
Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi
tidak jelas dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku
buruk dalam beberapa hari, seperti
b)
Menolak untuk makan.
c)
Kemampuan menghisap menurun.
d)
Muntah atau diare.
e)
Tonus buruk.
f)
Kurang gerakan.
g)
Menangis buruk.
h)
Leher biasanya lemas.
i)
Tanda-tanda non-spesifik:
j)
Hipothermia atau demam.
k)
Peka rangsang.
l)
Mengantuk.
m)
Kejang.
n)
Ketidakteraturan pernafasan atau apnea.
o)
Sianosis.
p)
Penurunan berat badan
G.
KOMPLIKASI
a. Hidrosefalus obstruktif
b. Meningococcal septicemia (mengingocemia)
c. Sindrom Water Friderichsen (septic syok, DIC,
perdarahan adrenal bilateral)
d. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Cerebral Palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder
H. PEMERIKSAAN
DIAGNOSTIK
1. Punksi Lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel
darah putih meningkat, glukosa menurun, protein meningkat.
Indikasi Punksi Lumbal:
a. Setiap pasien dengan kejang atau twitching baik yang
diketahui dari anamnesis atau yang dilihat sendiri.
b. Adanya paresis atau paralysis. Dalam hal ini termasuk
strabismus karena paresis N.VI.
c. Koma.
d. Ubun-ubun besar menonjol.
e. Kuduk kaku dengan kesadaran menurun.
f. Tuberkulosis miliaris dan spondilitis tuberculosis.
g. Leukemia.
2. Kultur swab hidung dan tenggorokan (Suriadi, dkk.
Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
3. Darah: leukosit meningkat, CRP meningkat, U&E,
glukosa, pemeriksaan factor pembekuan, golongan darah dan penyimpanan.
4. Mikroskopik, biakan dan sensitivitas: darah, tinja,
usap tenggorok, urin, rapid antigen screen.
5. CT scan: jika curiga TIK meningkat hindari pengambilan
sample dengan LP.
6. LP untuk CSS: merupakan kontra indikasi jika dicurigai
tanda neurologist fokal atau TIK meningkat.
7. CSS pada meningitis bakteri: netrofil, protein
meningkat (1-5g/L), glukosa menurun (kadar serum <50%) 8. CSS pada
meningitis virus: limfosit (pada mulainya netrofil), protein normal/meningkat
ringan, glukosa normal, PCR untuk diagnosis. 9. CSS: mikroskopik (pulasan Gram,
misal, untuk basil tahan asam pada meningitis TB), biakan dan sensitivitas.
PROSEDUR LUMBAL PUNGSI
1. Pengertian
adalah upaya
pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang
subarakhnoid. (Brunner and Suddarth’s, 1999)
2. Tujuan
· pemeriksaan cairan serebrospinal
· mengukur & mengurangi tekanan cairan serebrospinal
· menentukan ada tidaknya darah pd cairan serebrospinal
· mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal
· memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis spinal
terutama kasus infeksi.
3. Indikasi
· Kejang
· Paresis atau paralisis termasuk paresis Nervus VI
· Pasien koma
· Ubun – ubun besar
menonjol
· Kaku kuduk dengan kesadaran menurun
· Tuberkolosis
milier
4. Kontra Indikasi
· Syock/renjatan
· Infeksi local di
sekitar daerah tempat pungsi lumbal
· Peningkatan tekanan intracranial (oleh tumor, space
occupying lesion,hedrosefalus)
· Gangguan pembekuan darah yang belum diobati
5. Komplikasi
· Sakit kepala
· Infeksi
· Iritasi zat kimia terhadap
selaput otak
· Jarum pungsi patah
· Herniasi
· Tertusuknya saraf oleh jarum pungsi
6. Alat dan Bahan
- Sarung tangan
steril
- Duk lubang
- Kassa steril,
kapas dan plester
- Jarum pungsi
lumbal no. 20 dan 22 beserta stylet
- Antiseptic:
povidon iodine dan alcohol 70%
- Tabung reskasi
untuk menampung cairan serebrospinal
7. Anestesi local
- Spuit dan jarum
untuk memberikan obat anestesi local
- Obat anestesi
loka (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin. (Reis CE, 2006)
- Tempat sampah.
8. Persiapan Pasien
Pasien diposisikan
tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen.
Catatan : bila
pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi
dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.
9. Prosedur Pelaksanaan
1. Lakukan cuci tangan steril
2. Persiapkan dan kumpulkan alat-alat
3. Jamin privacy pasien
4. Bantu pasien dalam posisi yang tepat, yaitu
pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal
(dahi ditarik kearah lutut), eksterimitas bawah fleksi maksimum (lutut di
atarik kearah dahi), dan sumbu kraniospinal (kolumna vertebralis) sejajar
dengan tempat tidur.
5. Tentukan daerah pungsi lumbal diantara
vertebra L4 dan L5 yaitu dengan menemukan garis potong sumbu kraniospinal
(kolumna vertebralis) dan garis antara kedua spina iskhiadika anterior superior
(SIAS) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula dilakukan antara L4 dan L5 atau antara
L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi
6. Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di
sekitar daerah pungsi radius 10 cm dengan larutan povidon iodine diikuti dengan
larutan alcohol 70 % dan tutup dengan duk steril di mana daerah pungsi lumbal
dibiarkan terbuka
Tentukan kembali
daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah memakai sarung tangan
steril selama 15-30 detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama 1
menit.
7. Anestesi lokal disuntikan ke tempat tempat
penusukan dan tusukkan jarum spinal pada tempat yang telah di tentukan.
Masukkan jarum perlahan – lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal
dengan mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus durameter. Jarak antara
kulit dan ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan
gizi. Umumnya 1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3-5 tahun.
Pada remaja jaraknya 6-8 cm.
8. Lepaskan stylet perlahan – lahan dan cairan
keluar. Untuk mendapatkan aliran cairan yang lebih baik, jarum diputar hingga
mulut jarum mengarah ke cranial. Ambil cairan untuk pemeriksaan.
9. Cabut jarum dan tutup lubang tusukkan dengan
plester
10. Rapihkan alat-alat dan membuang sampah sesuai
prosedur rumah sakit
11. Cuci tangan
PEMERIKSAAN
NONE-PANDY
1. Uji
Nonne
a.
Metode
: Nonne
b.
Prinsip
: Protein dalam larutan jenuh garam ammonium sulfat akan mengalami denaturasi
berupa kekeruhan hingga terbentuka endapan.
c.
Tujuan
: Untuk mengetahui adanya protein jenis globulin dalam LCS
d. Alat dan
Reagensia :
- Tabung
reaksi
- Pipet
tetes
- Larutan
Nonne : Ammonium sulfat jenuh 80 gram dalam 100 mL aquadest. (disaring bila
keruh)
e. Spesimen
: LCS
f. Cara Kerja
:
- Dimasukkan
1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
- Ditambah
beberapa tetes larutan Nonne melalui dinding tabung dengan kemiringan 45°.
- Amati
adanya cincin putih keruh pada kedua lapis larutan tersebut pada posisi tegak.
g. Interpretasi
:
- Negatif
: tidak terbentuk cincin putih
- Positif
: terbentuk cincin putih.
2. Uji
Pandy
a.
Metode
: Pandy
b.
Prinsip
: Protein dalam larutan jenuh phenol akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan
hingga terjadi endapan putih.
c.
Tujuan
: Untuk mengetahui adanya protein dalam LCS
d.
Alat dan Reagensia :
- Tabung
reaksi
- Pipet
tetes
- Larutan
Pandy : phenol 10 mL dan aquadest 90 mL. (larutan bila keruh disaring atau dibiarkan
mengendap sisa jenuhnya
e. Spesimen
:
LCS
f. Cara
Kerja :
- Dimasukkan
1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
- Ditambah
beberapa tetes larutan Pandy.
- Amati
adanya kekeruhan pada larutan tersebut.
g. Interpretasi
:
- Negatif
: tidak terbentuk kekeruhan putih
- Positif
:
[+] 1 : Terjadi
opalescent (50-100mg%)
[+] 2 : Cairan
keruh (100-300mg%)
[+] 3 : Keruh
(300-500mg%)
[+] 4 : Keruh
seperti susu (>500mg%)
I.
PENATALAKSANAAN MEDIS
a. Obat anti inflamasi
1) Meningitis tuberkulosa
· Isoniazid
10 – 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500 gr selama 1 ½ tahun
· Rifamfisin 10 – 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali
sehari selama 1 tahun
· Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/kg/24 jam
sampai 1 minggu, 1 – 2 kali sehari, selama 3 bulan
2) Meningitis bacterial, umur < 2 bulan
·
Sefalosporin generasi ke 3
·
ampisilina 150 – 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV,
4 – 6 kali sehari
·
Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali
sehari
3) Meningitis bacterial, umur > 2 bulan
· Ampisilina
150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari
· Sefalosforin
generasi ke 3
b. Pengobatan Simtomatik
1) Diazepam IV : 0.2 – 0.5 mg/kg/dosis, atau
rectal 0.4 – 0.6/mg/kg/dosiskemudian klien dilanjutkan dengan.
2) Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3) Turunkan panas :
·
Antipiretika : parasetamol atau
salisilat 10 mg/kg/dosis.
·
Kompres air PAM atau es.
c. Pengobatan suportif
1. Cairan intravena.
2. Zat asam, usahakan agar konsitrasi 02
berkisar antara 30 – 50%.
Sedangkan penatalaksaan secara ilmu
keperawatan yang dapatdilakukan pada pasien meningitis adalah sebagai berikut:
a.
Pada waktu kejang
1. Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
2. Hisap lender
3. Kosongkan lambung untuk menghindari muntah
dan aspirasi.
4. Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya
jatuh).
b.Bila
penderita tidak sadar lama.
1. Beri makanan melalui sonda.
2. Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik
dengan merubah posisi penderita sesering
mungkin.
mungkin.
3. Cegah kekeringan kornea dengan boor water
atau salebantibiotika.
c.
Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.Pada inkontinensia alvi lakukan
lavement.
d.
Pemantauan ketat.
1. Tekanan darah
2. Respirasi
3. Nadi
4. Produksi air kemih
5. Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini
adanya DC.
J. PENGKAJIAN
KEPERAWATAN
- Riwayat keperawatan: riwayat kelahiran, penyakit kronis,
neoplasma riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
- Pada Neonatus: kaji adanya perilaku menolak untuk makan,
reflek menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang
gerak dan menangis lemah
- Pada anak-anak dan remaja: kaji adanya demam tinggi,
sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah
terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku
agresif atau maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda
Kernig dan Brudzinsky positif, refleks fisiologis hiperaktif, ptechiae atau
pruritus
- Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun): kaji
adanya demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis
dengan merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan
Brudzinsky positif
K. DIAGNOSA
KEPERAWATAN
- Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
- Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial
berhubungan dengan infeksi pada selaput otak
- Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang,reflek
meningkat
- Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang
menderita penyakit serius
L. PERENCANAAN
- Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan 1 : Pasien
tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima
anak
Intervensi
keperawatan :
Ø
Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman:
Gunakan posisi
miring, bila ditoleransi, karena kaku kuduk
Ø
Tinggikan sedikit kepala tempat tidur tanpa menggunakan
bantal karena hal ini seringkali menjadi posisi yang paling tidak
nyaman
Ø
Berikan analgesik sesuai ketentuan, terutama asetaminofen
dengan kodein
- Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial
berhubungan dengan infeksi pada selaput otak.
Tujuan : Tekanan intra karanial (TIK) tetap
atau berkurang menuju normal
Intervensi keperawatan :
Ø
Kaji tanda vital, GCS (jika dapat dilakukan) dan tanda-tanda
dari terjadinya penurunan kesadaran
Ø
Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
Ø
Beri posisi head up ± 3 cm
Ø
Ukur lingkar kepala setiap hari
Ø
Kolaborasi dalam pemberian cairan adekuat
Ø
Berikan obat sesuai dengan program; antibiotic, antipiretik,
dan antikonvulsan
Ø
Ikut sertakan keluarga dalam perawatan bayi secara aktif
- Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang, reflek
meningkat
Tujuan 1: Pasien
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Intervensi
keperawatan :
Ø
Bantu praktisi kesehatan mendapat kultur yang
diperlukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab
Ø
Berikan antibiotic, sesuai resep, dan segera setelah
diinstruksikan
Ø
Pertahankan rute intravena untuk pemberian obat
Tujuan 2 : Pasien
tidak menyebabkan infeksi ke orang lain
Intervensi
keperawatan :
Ø Implementasikan
pengendalian infeksi yang tepat :
·
Tempatkan anak di ruang isolasi selama sedikitnya 24 jam
setelah awal terapi antibiotik
·
Pantau tanda-tanda vital untuk tanda awal proses infeksi
·
Observasi adanya tanda-tanda infeksi khusus pada penyakit
anak
Ø Instruksikan orang
lain (keluarga, anggota staf) tentang kewaspadaan yang tepat
Ø Berikan vaksinasi
yang tepat :
·
Berikan vaksin rutin sesuai usia (mis., vaksin untuk
mencegah H. influenzae tipe B [Hib])
·
Identifikasi kontak erat dan anak berisiko tinggi yang dapat
memperoleh manfaat dari vaksinasi (mis., vaksinasi meningokokus)
Tujuan 3 : Pasien
tidak mengalami komplikasi
Intervensi
keperawatan :
Ø
Observasi dengan ketat adanya tanda-tanda komplikasi,
terutama peningkatan TIK, syok, dan distres pernapasan, sehingga dapat
dilakukan tindakan kedaruratan
Ø
Pertahankan hirasi optimal sesuai ketentuan
Ø
Pantau dan catat masukan dan keluaran untuk
mengidentifikasi komplikasi seperti ancaman syok atau peningkatan akumulasi
cairan yang berhubungan dengan edema serebral atau efusi subdural
Ø
Kurangi stimulus lingkungan, karena anak mungkin
sensitif terhadap kebisingan, sinar terang, dan stimulus eksternal lainnya
Ø
Implementasikan kewaspadaan keamanan yang tepat karena anak
sering gelisah dan kejang
Ø
Jelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut pada orang tua
karena sekuel neurologis, termasuk penurunan pendengaran mungkin tidak tampak
selama penyakit akut
M.
EVALUASI
Angka motalitas
meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab.
Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai
angka fatalitas sebesar hanya 20%, sedangkan neonatus dengan meningitis gram
negative meninggal dalam 70 kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S.
pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala sisa
penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup, tetapi juga
terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi
yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S.
pneumoniea.
Gejala sisa
neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien; kelumpuhan
saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti hemiparesis atau
cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50% pasien dengan gejala sisa
neurologi pada saat pemulangan dari RS akan membaik seiring waktu, dan
keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak
dengan kehilangan pendengaran.
Pencegahan
meningitis saat ini terdiri atas dua bentuk: kemoprokfilaksis terhadap individu
rentan yang diketahui terpajan pada pasien yang mengidap penyakit (pasien
indek) serta imunisasi aktif . Sekarang,
kemoprokfilaksis diindikasikan untuk mencegah meningitis sekunder yang
disebabkan oleh H. influenzae dan N. meningitides.
Imunisasi aktiv
terhadap H. influenzae telah menghasilkan penguangan dramatis
pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis
akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai
rangkain imunisasi tiga dosis pada usia 2,4,6 bulan.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Otak dan sumsum otak
belakang diselimuti meningen yang melindungi struktur syaraf yang halus,
membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan
serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu :
a. Pia meter,
merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum
tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan
menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b. Arachnoid,
merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c. Dura meter,
merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat
tebal dan kuat.
Komponen
intrakaranial terdiri dari : parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan CSF.
Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan
intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.
Meningitis
merupakan salah satu jenis infeksi yang menyerang susunan saraf pusat, dimana
angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang
mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat
ditentukan pada permulaan pengobatan.
Beberapa bakteri
penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien
meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko
terjadinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan
anak, kontak langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu diketahui juga
bahwa bayi dengan ibu yang menderita TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Meningitis adalah
infeksi pada cairan otak dan selaput otak (meningen) yang melindungi otak dan
medulla spinalis. Meningitis bacterial merupakan penyakit yang sangat serius
dan fatal.
Diagnose
keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi yang
utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi
peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak;
resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses
keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius.
B. SARAN
Mengerti dan
memahami gejala meningitis sangat penting untuk menegakkan diagnosis sedini
mungkin. Diagnosis dan pengobatan dini mencegah terjadinya komplikasi yang
bersifat fatal. Mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan
jenis pengobatan yang diberikan. Vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis
bakterial telah tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada
atau akan berkunjung ke daerah epidemik.
DAFTAR PUSTAKA
Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.
Brough,Hellen,et
al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit.Ed.2.Jakarta:EGC
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak
Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar S





Tidak ada komentar:
Posting Komentar