Selasa, 22 Oktober 2013

MENINGITIS


BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Penyakit infeksi di Indonesia masih merupakan masalah kesehatan yang utama. Salah satu penyakit tersebut adalah infeksi susunan saraf pusat. Penyebab infeksi susunan saraf pusat adalah virus, bakteri atau mikroorganisme lain. Meningitis merupakan penyakit infeksi dengan angka kematian berkisar antara 18-40% dan angka kecacatan 30-50%.
Bakteri penyebab meningitis ditemukan di seluruh dunia, dengan angka kejadian penyakit yang bervariasi. Di Indonesia, dilaporkan bahwa Haemophilus influenzae tipe B ditemukan pada 33% diantara kasus meningitis. Pada penelitian lanjutan, didapatkan 38% penyebab meningitis pada anak kurang dari 5 tahun. Di Australia pada tahun 1995 meningitis yang disebabkan Neisseria meningitidis 2,1 kasus per 100.000 populasi, dengan puncaknya pada usia 0 – 4 tahun dan 15 – 19 tahun . Sedangkan kasus meningitis yang disebabkan Steptococcus pneumoniae angka kejadian pertahun 10 – 100 per 100.000 populasi pada anak kurang dari 2 tahun dan diperkirakan ada 3000 kasus per tahun untuk seluruh kelompok usia, dengan angka kematian pada anak sebesar 15%, retardasi mental 17%, kejang 14% dan gangguan pendengaran 28%.

B.  TUJUAN
Mahasiswa mampu menjelaskan Meningitis meliputi:
1.      Anatomi  dan Fisiologi Selaput  Otak
2.      Definisi Meningitis
3.      Klasifikasi Meningitis
4.      Etiologi Meningitis
5.      Patofiosiologi Meningitis
6.      Manifestasi klinis Meningitis
7.      Komplikasi Meningitis
8.      Pemeriksaan Penunjang Meningitis
9.      Penatalaksanaan Medis Meningitis
10.    Penatalaksanaan Keperawatan Meningitis

C. Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN berisi Latar Belakang, Tujuan, dan Sistematika Penulisan
BAB II LANDASAN TEORI berisi Anatomi Fisiologi Selaput Otak, Definisi Meningitis, Etiologi, Patofiosiologi, Manifestasi klinis, Komplikasi, Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Penatalaksanaan Keperawatan, dan ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MENINGITIS
BAB IV PENUTUP berisi Kesimpulan, saran dan daftar pustaka




BAB II
TEORI PEMBAHASAN

A.  Anatomi dan Fisiologi Selaput Otak

Add caption
    
       

Otak dan sum-sum tulang belakang diselimuti meningea yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan sekresi cairan serebrospinal. Ingan Lapisan meningen menutupi otak berupa pembuluh darah yang memberi makan kejaringan syaraf dan mencegah masuknya zat-zat berbahaya yang merugikan otak. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu:
1. Lapisan Luar (Durameter)
Durameter merupakan tempat yang tidak kenyal yang membungkus otak, sumsum tulang belakang, cairan serebrospinal dan pembuluh darah. Durameter terbagi lagi atas durameter bagian luar yang disebut selaput tulang tengkorak (periosteum) dan durameter bagian dalam (meningeal) meliputi permukaan tengkorak untuk membentuk falks serebrum, tentorium serebelum dan diafragma sella.
2. Lapisan Tengah (Arakhnoid)
Disebut juga selaput otak, merupakan selaput halus yang memisahkan durameter dengan piameter, membentuk sebuah kantung atau balon berisi cairan otak yang meliputi seluruh susunan saraf pusat. Ruangan diantara durameter dan arakhnoid disebut ruangan subdural yang berisi sedikit cairan jernih menyerupai getah bening. Pada ruangan ini terdapat pembuluh darah arteri dan vena yang menghubungkan sistem otak dengan meningen serta dipenuhi oleh cairan serebrospinal.
3. Lapisan Dalam (Piameter)
Lapisan piameter merupakan selaput halus yang kaya akan pembuluh darah kecil yang mensuplai darah ke otak dalam jumlah yang banyak. Lapisan ini melekat erat dengan jaringan otak dan mengikuti gyrus dari otak. Ruangan diantara arakhnoid dan piameter disebut sub arakhnoid. Pada reaksi radang ruangan ini berisi sel radang. Disini mengalir cairan serebrospinalis dari otak ke sumsum tulang belakang




B.    DEFINISI MENINGITIS



             Meningitis adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column yang menyebabkan proses infeksi pada system saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)
Meningitis adalah infeksi ruang subaraknoid dan leptomeningen yang disebabkan oleh berbagai organisme pathogen. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri Rudolph,vol.1, 2006 ) 
Meningitis merupakan infeksi parah pada selaput otak dan lebih sering ditemukan pada anak-anak. Infeksi ini biasanya merupakan komplikasi dari penyakit lain, seperti campak, gondong, batuk rejan atau infeksi telinga. 
Meningitis adalah infeksi yang menular. Sama seperti flu, pengantar virus meningitis berasal dari cairan yang berasal dari tenggorokan atau hidung. Virus tersebut dapat berpindah melalui udara dan menularkan kepada orang lain yang menghirup udara tersebut. (Anonim, 2007 dalam Juita, 2008).




C.    KLASIFIKASI MENINGITIS
Adapun klasifikasi dari meningitis menurut Brunner & Suddath. 2002 yaitu: asepsis, sepsis dan tuberkulosa.
- Meningitis asepsis mengacu pada salah satu meningitits virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis, limfoma, leukemia, atau darah diruang sub arachnoid.
- Meningitis sepsis menunjukan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza.
- Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basillus tuberkel.
Sedangkan menurut Ronny Yoes meningitis dibagi menjadi 2 golongan berdasarkan perubahan yang terjadi pada cairan otak, yaitu Meningitis Serosa/ Tuberkulosa dan Meningitis Purulenta.
- Meningitis Serosa/Tuberkulosa adalah radang selaput otak arachnoid dan piamater yang disertai cairan otak yang jernih. Penyebab terseringnya adalah Myobakterium Tuberculosa. Penyebab lain seperti Virus, Toxoplasma gondhi, Ricketsia.
- Meningitis Purulenta adalah radang bernanah arachnoid dan piamater yang meliputi otak dan medula spinalis. Penyebanya antara lain: diplococus pneumoniae, Neisseria meningitidis, Streptococcus haemolytiicus, Staphylococcus aureus,haemophilus influenzae, esherchia coli, klebsiella pneumoniae, pseudomonas aeruginosa


D.    ETIOLOGI

1.    Bakteri
Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :
  • Haemophillus influenzae
  • Nesseria meningitides (meningococcal)
  • Diplococcus pneumoniae (pneumococcal)
  • Streptococcus, grup A
  • Staphylococcus aureus
  • Escherichia coli
  • Klebsiella
  • Proteus
  • Pseudomonas

2.    Virus
Merupakan penyebab sering lainnya selain bakteri. Infeksi karena virus ini biasanya bersifat “self-limitting”, dimana akan mengalami penyembuhan sendiri dan penyembuhan bersifat sempurna. Beberapa virus secara umum yang menyebabkan meningitis adalah:
- Coxsacqy
- Virus herpes
- Arbo virus
- Campak dan varicela
3.     Jamur
Kriptokokal meningitis adalah serius dan fatal. Bentuk penyakit pada pasien HIV/AIDS dan hitungan CD< 200.Candida dan aspergilus adalah contoh lain jamur meningitis.
4.     Protozoa




FAKTOR RESIKO :

1. Faktor maternal: rupture membran fetal, infeksi metrnal pada minggu terakhir kehamilan
2. Faktor imunologi: usia muda, defisiansi mekanisme imun, defek lien karena penyakit sel sabit atau asplenia (rentan terhadap S. Pneumoniae dan Hib), anak-anak yang mendapat obat-obat imunosupresi
3. Anak dengan kelainan system saraf pusat, pembedahan atau injuri yang berhubungan dengan system persarafan
4. Faktor yang berkaitan dengan status sosial-ekonomi rendah: lingkungan padat, kemiskinan, kontak erat dengan individu tang terkena (penularan melalui sekresi pernapasan)

E.     PATOFISIOLOGI
·            Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinal yang dapat  menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan peningkatan tekanan intra  kranial. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah Hiperemi pada meningen. Edema dan esudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan intra kranial.
·       Organisasi masuk melalui sel darah merah blood brain barrier. Masuknya dapat melalui  trauma penetrasi, prosedur pembedahan, atau pecahnya abses serebral atau kelainan sistem saraf pusat. Otorrhea atau rhinorrhea akibat fraktur dasar tenggkorak dapat menimbulkan  meningitis, dimana terjadi hubungan antara CSF dan dunia luar.
·        Masuknya mikroorganisme ke susunan saraf pusat melalui ruang sub-arachnoid dan menimbulkan respon peradangan pada via, arachnoid, CFS dan ventrikel.
·      Dari reaksi radang muncul eksudat dan perkembangan infeksi pada ventrikel, edema dan skar jaringan sekeliling ventrikel menyebabkan obstruksi pada CSF dan menimbulkan   hidrosefalus.
·     Meningitis bakteri: netrofil, monosit, limfosit, dan yang lainnya merupakan sel respon  radang. Eksudat terdiri dari bakteri fibrin dan lekosit yang dibentuk di ruang subarachnoid. Penumpukan pada CSF akan bertambah dan mengganggu aliran CSF di sekitar otak dan medulla spinalis. Terjadi vasodilatasi yang cepat dari pembuluh darah dapat menimbulkan ruptur atau trombosis dinding pembuluh darah dan jaringan otak dapat menjadi infarct.
·         Meningitis virus sebagai akibat dari penyakit virus seperti meales, mump, herpes simplek dan herpes zoster. Pembentukan eksudat pada umumnya tidak terjadi dan tidak ada mikroorganisme pada kultur CSF.





F.     MANIFESTASI KLINIS

1.    Anak dan Remaja
a) Demam
b) Mengigil
c) Sakit kepala
d) Muntah
e) Perubahan pada sensorium
f) Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal)
g) Peka rangsang
h) Agitasi
i) Dapat terjadi: Fotophobia (apabila cahaya diarahkan pada mata pasien (adanya   disfungsi pada saraf III, IV, dan VI)),Delirium, Halusinasi, perilaku agresi, mengantuk, stupor, koma.

2. Bayi dan Anak Kecil
Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak usia 3 bulan dan 2 tahun.
a) Demam
b) Muntah
c) Peka rangsang yang nyata
d) Sering kejang (sering kali disertai denagan menangis nada tinggi)
e) Fontanel menonjol.

3. Neonatus:
a) Tanda-tanda spesifik: Secara khusus sulit untuk didiagnosa serta manifestasi tidak jelas dan spesifik tetapi mulai terlihat menyedihkan dan berperilaku buruk dalam beberapa hari, seperti
b) Menolak untuk makan.
c) Kemampuan menghisap menurun.
d) Muntah atau diare.
e) Tonus buruk.
f) Kurang gerakan.
g) Menangis buruk.
h) Leher biasanya lemas.
i) Tanda-tanda non-spesifik:
j) Hipothermia atau demam.
k) Peka rangsang.
l) Mengantuk.
m) Kejang.
n) Ketidakteraturan pernafasan atau apnea.
o) Sianosis.
p) Penurunan berat badan

G.    KOMPLIKASI
a. Hidrosefalus obstruktif
b. Meningococcal septicemia (mengingocemia)
c. Sindrom Water Friderichsen (septic syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)
d. SIADH (Syndrome Inappropriate Antidiuretic Hormone)
e. Efusi subdural
f. Kejang
g. Edema dan herniasi serebral
h. Cerebral Palsy
i. Gangguan mental
j. Gangguan belajar
k. Attention deficit disorder

H.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

1. Punksi Lumbal : tekanan cairan meningkat, jumlah sel darah putih meningkat, glukosa menurun, protein meningkat.

Indikasi Punksi Lumbal:
a. Setiap pasien dengan kejang atau twitching baik yang diketahui dari anamnesis atau yang dilihat sendiri.
b. Adanya paresis atau paralysis. Dalam hal ini termasuk strabismus karena paresis N.VI.
c. Koma.
d. Ubun-ubun besar menonjol.
e. Kuduk kaku dengan kesadaran menurun.
f. Tuberkulosis miliaris dan spondilitis tuberculosis.
g. Leukemia.

2. Kultur swab hidung dan tenggorokan (Suriadi, dkk. Asuhan Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006)

3. Darah: leukosit meningkat, CRP meningkat, U&E, glukosa, pemeriksaan factor pembekuan, golongan darah dan penyimpanan.

4. Mikroskopik, biakan dan sensitivitas: darah, tinja, usap tenggorok, urin, rapid antigen screen.

5. CT scan: jika curiga TIK meningkat hindari pengambilan sample dengan LP.
6. LP untuk CSS: merupakan kontra indikasi jika dicurigai tanda neurologist fokal atau TIK meningkat.

7. CSS pada meningitis bakteri: netrofil, protein meningkat (1-5g/L), glukosa menurun (kadar serum <50%) 8. CSS pada meningitis virus: limfosit (pada mulainya netrofil), protein normal/meningkat ringan, glukosa normal, PCR untuk diagnosis. 9. CSS: mikroskopik (pulasan Gram, misal, untuk basil tahan asam pada meningitis TB), biakan dan sensitivitas.


PROSEDUR LUMBAL PUNGSI 
1. Pengertian
adalah upaya pengeluaran cairan serebrospinal dengan memasukan jarum ke dalam ruang subarakhnoid. (Brunner and Suddarth’s, 1999)

2. Tujuan
·  pemeriksaan cairan serebrospinal
·  mengukur & mengurangi tekanan cairan serebrospinal
·  menentukan ada tidaknya darah pd cairan serebrospinal
·  mendeteksi adanya blok subarakhnoid spinal
·  memberikan antibiotic intrathekal ke dalam kanalis spinal terutama kasus infeksi.

3. Indikasi
·  Kejang
·  Paresis atau paralisis termasuk paresis Nervus VI
·  Pasien koma
·   Ubun – ubun besar menonjol
·  Kaku kuduk dengan kesadaran menurun
·   Tuberkolosis milier

4. Kontra Indikasi
·  Syock/renjatan
·   Infeksi local di sekitar daerah tempat pungsi lumbal
·  Peningkatan tekanan intracranial (oleh tumor, space occupying lesion,hedrosefalus)
·  Gangguan pembekuan darah yang belum diobati

5. Komplikasi
·  Sakit kepala
·   Infeksi
·   Iritasi zat kimia terhadap selaput otak
·   Jarum pungsi patah
·   Herniasi
·  Tertusuknya saraf oleh jarum pungsi

6. Alat dan Bahan
- Sarung tangan steril
- Duk lubang
- Kassa steril, kapas dan plester
- Jarum pungsi lumbal no. 20 dan 22 beserta stylet
- Antiseptic: povidon iodine dan alcohol 70%
- Tabung reskasi untuk menampung cairan serebrospinal

7. Anestesi local
- Spuit dan jarum untuk memberikan obat anestesi local
- Obat anestesi loka (lidokian 1% 2 x ml), tanpa epinefrin. (Reis CE, 2006)
- Tempat sampah.

8. Persiapan Pasien
Pasien diposisikan tidur lateral pada ujung tempat tidur dengan lutut ditarik ke abdomen.
Catatan : bila pasiennya obesitas, bisa mengambil posisi duduk di atas kursi, dengan kursi dibalikan dan kepala disandarkan pada tempat sandarannya.



9. Prosedur Pelaksanaan

1.    Lakukan cuci tangan steril
2.    Persiapkan dan kumpulkan alat-alat
3.    Jamin privacy pasien
4.    Bantu pasien dalam posisi yang tepat, yaitu pasien dalam posisi miring pada salah satu sisi tubuh. Leher fleksi maksimal (dahi ditarik kearah lutut), eksterimitas bawah fleksi maksimum (lutut di atarik kearah dahi), dan sumbu kraniospinal (kolumna vertebralis) sejajar dengan tempat tidur.
5.    Tentukan daerah pungsi lumbal diantara vertebra L4 dan L5 yaitu dengan menemukan garis potong sumbu kraniospinal (kolumna vertebralis) dan garis antara kedua spina iskhiadika anterior superior (SIAS) kiri dan kanan. Pungsi dapat pula dilakukan antara L4 dan L5 atau antara L2 dan L3 namun tidak boleh pada bayi
6.    Lakukan tindakan antisepsis pada kulit di sekitar daerah pungsi radius 10 cm dengan larutan povidon iodine diikuti dengan larutan alcohol 70 % dan tutup dengan duk steril di mana daerah pungsi lumbal dibiarkan terbuka
Tentukan kembali daerah pungsi dengan menekan ibu jari tangan yang telah memakai sarung tangan steril selama 15-30 detik yang akan menandai titik pungsi tersebut selama 1 menit.
7.    Anestesi lokal disuntikan ke tempat tempat penusukan dan tusukkan jarum spinal pada tempat yang telah di tentukan. Masukkan jarum perlahan – lahan menyusur tulang vertebra sebelah proksimal dengan mulut jarum terbuka ke atas sampai menembus durameter. Jarak antara kulit dan ruang subarakhnoi berbeda pada tiap anak tergantung umur dan keadaan gizi. Umumnya 1,5 – 2,5 cm pada bayi dan meningkat menjadi 5 cm pada umur 3-5 tahun. Pada remaja jaraknya 6-8 cm.
8.    Lepaskan stylet perlahan – lahan dan cairan keluar. Untuk mendapatkan aliran cairan yang lebih baik, jarum diputar hingga mulut jarum mengarah ke cranial. Ambil cairan untuk pemeriksaan.
9.    Cabut jarum dan tutup lubang tusukkan dengan plester
10.  Rapihkan alat-alat dan membuang sampah sesuai prosedur rumah sakit
11.  Cuci tangan

PEMERIKSAAN NONE-PANDY

1.      Uji Nonne
a.         Metode                : Nonne
b.       Prinsip                  : Protein dalam larutan jenuh garam ammonium sulfat akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terbentuka endapan.
c.       Tujuan                  : Untuk mengetahui adanya protein jenis globulin dalam LCS
d.   Alat dan Reagensia :
-       Tabung reaksi
-       Pipet tetes
-       Larutan Nonne : Ammonium sulfat jenuh 80 gram dalam 100 mL aquadest. (disaring bila keruh)
e.  Spesimen            : LCS
f.  Cara Kerja           :
-       Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
-       Ditambah beberapa tetes larutan Nonne melalui dinding tabung dengan kemiringan 45°.
-       Amati adanya cincin putih keruh pada kedua lapis larutan tersebut pada posisi tegak.

g.   Interpretasi           :
-       Negatif  : tidak terbentuk cincin putih
-       Positif   : terbentuk cincin putih.

2.      Uji Pandy
a.    Metode                : Pandy
b.      Prinsip                  : Protein dalam larutan jenuh phenol akan mengalami denaturasi berupa kekeruhan hingga terjadi endapan putih.
c.    Tujuan                  : Untuk mengetahui adanya protein dalam LCS
d.    Alat dan Reagensia :
-       Tabung reaksi
-       Pipet tetes
-       Larutan Pandy : phenol 10 mL dan aquadest 90 mL. (larutan bila keruh disaring atau dibiarkan mengendap sisa jenuhnya
e.  Spesimen            :            LCS
f. Cara Kerja           :
-       Dimasukkan 1 mL cairan otak ke dalam tabung reaksi.
-       Ditambah beberapa tetes larutan Pandy.
-       Amati adanya kekeruhan pada larutan tersebut.
g.  Interpretasi           :
-       Negatif  : tidak terbentuk kekeruhan putih
-       Positif   :
[+] 1 : Terjadi opalescent (50-100mg%)
[+] 2 : Cairan keruh (100-300mg%)
[+] 3 : Keruh (300-500mg%)
[+] 4 : Keruh seperti susu (>500mg%)



I.       PENATALAKSANAAN MEDIS
a.     Obat anti inflamasi

1)    Meningitis tuberkulosa
·       Isoniazid 10 – 20 mg/kg/24 jam oral, 2 kali sehari maksimal 500 gr selama 1 ½ tahun
·        Rifamfisin 10 – 15 mg/kg/ 24 jam oral, 1 kali sehari selama 1 tahun
·        Streptomisin sulfat 20 – 40 mg/kg/24 jam sampai 1 minggu, 1 – 2 kali sehari, selama 3 bulan      

2)    Meningitis bacterial, umur < 2 bulan
·         Sefalosporin generasi ke 3
·          ampisilina 150 – 200 mg (400 gr)/kg/24 jam IV, 4 – 6 kali sehari
·          Koloramfenikol 50 mg/kg/24 jam IV 4 kali sehari

3)    Meningitis bacterial, umur > 2 bulan
·      Ampisilina 150-200 mg (400 mg)/kg/24 jam IV 4-6 kali sehari
·      Sefalosforin generasi ke 3

b.    Pengobatan Simtomatik
1)    Diazepam IV : 0.2 – 0.5 mg/kg/dosis, atau rectal 0.4 – 0.6/mg/kg/dosiskemudian klien dilanjutkan dengan.
2)    Fenitoin 5 mg/kg/24 jam, 3 kali sehari.
3)    Turunkan panas :
·         Antipiretika : parasetamol atau salisilat 10 mg/kg/dosis.
·         Kompres air PAM atau es.

c.     Pengobatan suportif
1.    Cairan intravena.
2.    Zat asam, usahakan agar konsitrasi 02
       berkisar antara 30 – 50%.

 Sedangkan penatalaksaan secara ilmu keperawatan yang dapatdilakukan pada pasien meningitis adalah sebagai berikut:
a. Pada waktu kejang
1.    Longgarkan pakaian, bila perlu dibuka.
2.    Hisap lender
3.    Kosongkan lambung untuk menghindari muntah dan aspirasi.
4.    Hindarkan penderita dari rodapaksa (misalnya jatuh).

b.Bila penderita tidak sadar lama.
1.    Beri makanan melalui sonda.
2.    Cegah dekubitus dan pnemunia ortostatik dengan merubah posisi penderita sesering  
      mungkin.
3.    Cegah kekeringan kornea dengan boor water atau salebantibiotika.

c. Pada inkontinensia urine lakukan katerisasi.Pada inkontinensia alvi lakukan lavement.
d. Pemantauan ketat.
1.    Tekanan darah
2.    Respirasi
3.    Nadi
4.    Produksi air kemih
5.    Faal hemostasis untuk mengetahui secara dini adanya DC.

J.      PENGKAJIAN KEPERAWATAN
  1. Riwayat keperawatan: riwayat kelahiran, penyakit kronis, neoplasma riwayat pembedahan pada otak, cedera kepala
  2. Pada Neonatus: kaji adanya perilaku menolak untuk makan, reflek menghisap kurang, muntah atau diare, tonus otot kurang, kurang gerak dan menangis lemah
  3. Pada anak-anak dan remaja: kaji adanya demam tinggi, sakit kepala, muntah yang diikuti dengan perubahan sensori, kejang mudah terstimulasi dan teragitasi, fotofobia, delirium, halusinasi, perilaku agresif atau maniak, penurunan kesadaran, kaku kuduk, opistotonus, tanda Kernig dan Brudzinsky positif, refleks fisiologis hiperaktif, ptechiae atau pruritus
  4. Bayi dan anak-anak (usia 3 bulan hingga 2 tahun): kaji adanya demam, malas makan, muntah, mudah terstimulasi, kejang, menangis dengan merintih, ubun-ubun menonjol, kaku kuduk, dan tanda Kernig dan Brudzinsky positif


K.    DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
  2. Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan infeksi pada selaput otak
  3. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang,reflek meningkat
  4. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius

L.     PERENCANAAN
  1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
Tujuan 1 : Pasien tidak mengalami nyeri atau nyeri menurun sampai tingkat yang dapat diterima anak
Intervensi keperawatan :
Ø  Biarkan anak mengambil posisi yang nyaman:
Gunakan posisi miring, bila ditoleransi, karena kaku kuduk
Ø  Tinggikan sedikit kepala tempat tidur tanpa menggunakan bantal karena hal ini seringkali menjadi posisi yang paling tidak nyaman
Ø  Berikan analgesik sesuai ketentuan, terutama asetaminofen dengan kodein

  1. Resiko terjadinya peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan infeksi pada selaput otak.
Tujuan : Tekanan intra karanial (TIK) tetap atau berkurang menuju normal
Intervensi keperawatan :
Ø  Kaji tanda vital, GCS (jika dapat dilakukan) dan tanda-tanda dari terjadinya penurunan kesadaran
Ø  Ciptakan dan pertahankan lingkungan yang tenang dan nyaman
Ø  Beri posisi head up ± 3 cm
Ø  Ukur lingkar kepala setiap hari
Ø  Kolaborasi dalam pemberian cairan adekuat
Ø  Berikan obat sesuai dengan program; antibiotic, antipiretik, dan antikonvulsan
Ø  Ikut sertakan keluarga dalam perawatan bayi secara aktif

  1. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat
Tujuan 1: Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi
Intervensi keperawatan :
Ø  Bantu praktisi kesehatan mendapat kultur yang diperlukan untuk mengidentifikasikan organisme penyebab
Ø  Berikan antibiotic, sesuai resep, dan segera setelah diinstruksikan
Ø  Pertahankan rute intravena untuk pemberian obat

Tujuan 2 : Pasien tidak menyebabkan infeksi ke orang lain
Intervensi keperawatan :
Ø  Implementasikan pengendalian infeksi yang tepat :
·         Tempatkan anak di ruang isolasi selama sedikitnya 24 jam setelah awal terapi antibiotik
·         Pantau tanda-tanda vital untuk tanda awal proses infeksi
·         Observasi adanya tanda-tanda infeksi khusus pada penyakit anak
Ø  Instruksikan orang lain (keluarga, anggota staf) tentang kewaspadaan yang tepat
Ø  Berikan vaksinasi yang tepat :
·         Berikan vaksin rutin sesuai usia (mis., vaksin untuk mencegah H. influenzae tipe B [Hib])
·         Identifikasi kontak erat dan anak berisiko tinggi yang dapat memperoleh manfaat dari vaksinasi (mis., vaksinasi meningokokus)

Tujuan 3 : Pasien tidak mengalami komplikasi
Intervensi keperawatan :
Ø  Observasi dengan ketat adanya tanda-tanda komplikasi, terutama peningkatan TIK, syok, dan distres pernapasan, sehingga dapat dilakukan tindakan kedaruratan
Ø  Pertahankan hirasi optimal sesuai ketentuan
Ø  Pantau dan catat masukan dan keluaran untuk mengidentifikasi komplikasi seperti ancaman syok atau peningkatan akumulasi cairan yang berhubungan dengan edema serebral atau efusi subdural
Ø  Kurangi stimulus lingkungan, karena anak mungkin sensitif terhadap kebisingan, sinar terang, dan stimulus eksternal lainnya
Ø  Implementasikan kewaspadaan keamanan yang tepat karena anak sering gelisah dan kejang
Ø  Jelaskan pentingnya perawatan tindak lanjut pada orang tua karena sekuel neurologis, termasuk penurunan pendengaran mungkin tidak tampak selama penyakit akut


M.   EVALUASI

Angka motalitas meningitis sangat bervariasi, tergantung pada usia pasien dan patogen penyebab. Pasien dengan meningitis meningokokus tanpa meningokoksemia berat mempunyai angka fatalitas sebesar hanya 20%, sedangkan neonatus dengan meningitis gram negative meninggal dalam 70 kasus. Angka kematian akibat H. influenzae dan S. pneumoniae masing-masing adalah sekitar 3% dan 6%.
Gejala sisa penyakit terjadi pada kira-kira 30% penderita yang bertahan hidup, tetapi juga terdapat predileksi usia serta petogen, dengan insidensi terbesar pada bayi yang sangat muda serta bayi yang terinfeksi bakteri gram negative dan S. pneumoniea.
Gejala sisa neurologi tersering adalah tuli, yang terjadi pada 3-25% pasien; kelumpuhan saraf kranial pada 2-7% pasien; dan cidera berat seperti hemiparesis atau cidera otaku mum pada 1-2% pasien. Lebih dari 50% pasien dengan gejala sisa neurologi pada saat pemulangan dari RS akan membaik seiring waktu, dan keberhasilan dalam implant koklea belum lama ini memberi harapan pada anak dengan kehilangan pendengaran.
Pencegahan meningitis saat ini terdiri atas dua bentuk: kemoprokfilaksis terhadap individu rentan yang diketahui terpajan pada pasien yang mengidap penyakit (pasien indek) serta imunisasi aktif   . Sekarang, kemoprokfilaksis diindikasikan untuk mencegah meningitis sekunder yang disebabkan oleh H. influenzae dan N. meningitides.
Imunisasi aktiv terhadap H. influenzae telah menghasilkan penguangan dramatis pada penyakit invasive, dengan pengurangan sebanyak 70-80% pada meningitis akibat organisme tersebut. Saat ini imunisasi dianjurkan untuk bayi sebagai rangkain imunisasi tiga dosis pada usia 2,4,6 bulan.



BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Otak dan sumsum otak belakang diselimuti meningen yang melindungi struktur syaraf yang halus, membawa pembuluh darah dan dengan sekresi sejenis cairan yaitu cairan serebrospinal. Meningea terdiri dari tiga lapis, yaitu :
a.       Pia meter, merupakan lapisan yang menyelipkan dirinya ke dalam celah pada otak dan sumsum tulang belakang dan sebagai akibat dari kontak yang sangat erat akan menyediakan darah untuk struktur-struktur ini.
b.      Arachnoid, merupakan selaput halus yang memisahkan pia meter dan dura meter.
c.       Dura meter, merupakan lapisan paling luar yang padat dan keras berasal dari jaringan ikat tebal dan kuat.

Komponen intrakaranial terdiri dari : parenkim otak, sistem pembuluh darah, dan CSF. Apabila salah satu komponen terganggu, akan mengakibatkan peningkatan tekanan intrakranial, yang akhirnya akan menurunkan fungsi neurologis.
Meningitis merupakan salah satu jenis infeksi yang menyerang susunan saraf pusat, dimana angka kejadiannya masih tinggi di Indonesia. Pada banyak penyakit yang mempunyai mobiditas dan mortalitas yang tinggi, prognosis penyakit sangat ditentukan pada permulaan pengobatan.
Beberapa bakteri penyebab meningitis ini tidak mudah menular seperti penyakit flu, pasien meningitis tidak menularkan penyakit melalui saluran pernapasan. Resiko terjadinya penularan sangat tinggi pada anggota keluarga serumah, penitipan anak, kontak langsung cairan ludah seperti berciuman. Perlu diketahui juga bahwa bayi dengan ibu yang menderita TBC sangat rentan terhadap penyakit ini.
Meningitis adalah infeksi pada cairan otak dan selaput otak (meningen) yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningitis bacterial merupakan penyakit yang sangat serius dan fatal.
Diagnose keperawatan yang muncul tergantung dengan kondisi saat pengkajian, tapi yang utama adalah Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi; resiko terjadi peningkatan tekanan intrakranial berhubungan dengan Infeksi pada selaput otak; resiko cedera berhubungan dengan kejang, reflek meningkat; perubahan proses keluarga berhubungan dengan anak yang menderita penyakit serius.

B.     SARAN

Mengerti dan memahami gejala meningitis sangat penting untuk menegakkan diagnosis sedini mungkin. Diagnosis dan pengobatan dini mencegah terjadinya komplikasi yang bersifat fatal. Mengetahui penyebab meningitis sangat penting untuk menentukan jenis pengobatan yang diberikan. Vaksin untuk mencegah terjadinya meningitis bakterial telah tersedia, dan sangat dianjurkan untuk diberikan jika berada atau akan berkunjung ke daerah epidemik.


DAFTAR PUSTAKA

Alpers,Ann.2006.Buku Ajar Pediatri Rudolph. Ed.20.Jakarta:EGC.
Brough,Hellen,et al.2007.Rujukan Cepat Pediatri dan Kesehatan Anak.Jakarta:EGC.
Ngastiyah.2005.Perawatan Anak Sakit.Ed.2.Jakarta:EGC
Suriadi, Rita Yuliani.2006.Asuhan keperawatan pada Anak Ed.2.Jakarta:Percetakan Penebar S